Sistem Tradisional: Metode Bandongan dan Sorogan dalam Belajar di Pesantren
Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang kaya akan metode pembelajaran warisan leluhur. Dua di antaranya yang menjadi ciri khas Sistem Tradisional pesantren adalah metode bandongan dan sorogan. Kedua metode ini telah terbukti efektif dalam mentransfer ilmu agama secara mendalam dari Kyai kepada santri, membentuk pemahaman yang komprehensif terhadap kitab kuning. Memahami Sistem Tradisional ini adalah kunci untuk mengapresiasi kekayaan pedagogi pesantren.
Metode bandongan (atau sering juga disebut weton) adalah proses belajar mengajar di mana Kyai atau ustadz membaca dan menerjemahkan kitab kuning di hadapan banyak santri. Para santri menyimak dengan seksama, kemudian menuliskan makna atau penjelasan dari Kyai di kitab mereka masing-masing, sebuah aktivitas yang dikenal dengan istilah ngesahi. Metode ini sangat efisien untuk menyampaikan materi kepada jumlah santri yang besar secara bersamaan. Kyai biasanya akan menjelaskan poin-poin penting, menguraikan makna, dan kadang-kadang menceritakan konteks sejarah atau latar belakang suatu dalil. Misalnya, di Pondok Pesantren Gontor pada tahun 2024, sesi bandongan seringkali diadakan di masjid utama setelah salat subuh, dihadiri ratusan santri yang antusias menyimak penjelasan Kyai.
Di sisi lain, metode sorogan menawarkan pendekatan yang lebih personal dan intensif. Dalam metode ini, santri secara individu atau dalam kelompok kecil akan membaca dan menyetorkan hafalannya atau pemahaman mereka atas bagian tertentu dari kitab kuning di hadapan Kyai atau ustadz. Kyai akan mendengarkan, mengoreksi bacaan atau pemahaman santri jika ada kesalahan, serta memberikan penjelasan tambahan yang lebih mendalam dan spesifik sesuai kebutuhan santri. Metode ini memungkinkan Kyai untuk menilai secara langsung sejauh mana pemahaman setiap santri dan memberikan bimbingan yang disesuaikan. Keintiman hubungan guru dan murid sangat terasa dalam metode sorogan ini, memperkuat ikatan emosional dan intelektual.
Kedua metode dalam Sistem Tradisional ini saling melengkapi. Bandongan memberikan pemahaman umum dan menyeluruh, sementara sorogan memastikan pemahaman mendalam dan akurasi personal. Kombinasi ini telah teruji selama berabad-abad dalam mencetak ulama-ulama besar di Nusantara. Santri tidak hanya mendapatkan ilmu dari Kyai, tetapi juga keberkahan dan sanad keilmuan yang bersambung. Dengan demikian, Sistem Tradisional melalui bandongan dan sorogan adalah inti dari pendidikan pesantren yang tak lekang oleh waktu, terus mencetak generasi yang faqih (paham) dalam ilmu agama.