Myanmar Berduka: Ratusan Muslim Meninggal Saat Salat Jumat Akibat Gempa
Tragedi dahsyat melanda Myanmar baru-baru ini ketika gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang negara tersebut. Insiden memilukan ini menyisakan duka mendalam, khususnya bagi komunitas Muslim. Myanmar Berduka dengan kabar ratusan jamaah yang meninggal dunia saat sedang menunaikan shalat Jumat, sebuah momen yang seharusnya menjadi puncak ibadah di penghujung Ramadan.
Gempa bumi yang terjadi pada Jumat, 28 Maret 2025, meluluhlantakkan banyak bangunan, termasuk sejumlah masjid di wilayah Sagaing dan Mandalay. Saat azan berkumandang dan ratusan Muslim bergegas memenuhi masjid untuk shalat Jumat terakhir Ramadan, bumi bergetar hebat. Momen sakral itu berubah menjadi kepiluan, membuat Myanmar Berduka dengan korban jiwa yang tak terhitung.
Laporan awal menyebutkan, tiga masjid utama di Sagaing runtuh total, menimbun hampir seluruh jemaah di dalamnya. Saksi mata menceritakan detik-detik mengerikan saat bangunan roboh, menjebak para jamaah di bawah reruntuhan. Tim penyelamat bekerja keras mengevakuasi jenazah, beberapa ditemukan di area wudhu, seolah masih berusaha menyelamatkan diri.
Kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa banyak masjid di Myanmar telah rapuh. Pembatasan pemerintah terkait renovasi selama bertahun-tahun menyebabkan banyak bangunan, terutama yang berusia lebih dari satu abad, berada dalam kondisi rentan. Tragedi ini menyoroti tantangan yang dihadapi komunitas Muslim di sana.
Hingga saat ini, jumlah korban tewas akibat gempa telah melampaui ribuan, dengan ratusan lainnya masih dinyatakan hilang. Komunitas Muslim lokal melaporkan sekitar 700 Muslim tewas di dalam masjid-masjid yang roboh. Angka ini menambah daftar panjang duka yang dialami oleh bangsa yang tengah menghadapi berbagai krisis ini.
Myanmar Berduka merasakan kehilangan mendalam. Banyak di antara korban adalah tokoh masyarakat, pengusaha yang dihormati, hingga asisten imam yang dikenal dengan suara merdunya. Mereka yang meninggal saat menunaikan shalat Jumat diharapkan akan dikenang sebagai syuhada, gugur dalam keadaan beribadah di jalan Allah.
Tragedi ini juga menyoroti kurangnya perhatian dari otoritas setempat terhadap upaya penyelamatan di lokasi masjid yang ambruk. Laporan menunjukkan bahwa meskipun biara-biara dan bangunan lain didaftar dalam laporan kerusakan, masjid-masjid seringkali tidak tercantum atau mendapatkan prioritas penyelamatan yang minim.
Duka Myanmar Berduka ini adalah pengingat akan kerapuhan hidup dan pentingnya solidaritas global. Semoga para korban mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan, dan mereka yang ditinggalkan diberi ketabahan. Bantuan kemanusiaan serta dukungan moral sangat dibutuhkan untuk membantu masyarakat pulih dari bencana besar ini.