Edukasi,  Pendidikan

Menjaga Hafalan dengan Muraja’ah: Strategi Mengulang yang Membuat Ilmu Melekat Permanen

Dalam dunia pendidikan Islam, khususnya di lingkungan penghafal Al-Qur’an (hafiz) dan penuntut ilmu yang mendalami hadis atau matan kitab, tantangan terbesar bukanlah saat menghafal, melainkan setelahnya: bagaimana Menjaga Hafalan agar tidak hilang atau bercampur dengan hafalan baru. Solusi yang telah teruji dan menjadi tulang punggung keberhasilan para ulama adalah muraja’ah. Muraja’ah, yang secara bahasa berarti mengulang atau meninjau kembali, adalah strategi sistematis untuk mengulang materi hafalan secara berkala, mengubah ingatan jangka pendek menjadi memori permanen, sehingga ilmu benar-benar melekat. \

Pentingnya Menjaga Hafalan melalui muraja’ah tidak bisa disepelekan. Jika proses hafalan ibarat menanam benih, maka muraja’ah adalah menyiramnya setiap hari. Tanpa pengulangan yang konsisten, hafalan akan mudah terlupakan, terutama di tengah kesibukan harian. Sebuah studi kasus yang dilakukan oleh Pusat Studi Tahfiz di Pondok Pesantren Darul Ulum pada 14 Februari 2025 menunjukkan bahwa santri yang melakukan muraja’ah minimal dua kali sehari (setelah subuh dan sebelum tidur) memiliki tingkat akurasi hafalan 95%, jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok yang hanya mengulang saat sesi setoran.

Strategi muraja’ah yang efektif harus terstruktur. Beberapa pesantren, seperti Ma’had Tahfiz Al-Fatah, menerapkan jadwal ketat yang membagi waktu santri menjadi tiga blok: hafalan baru, muraja’ah lama (pengulangan hafalan yang sudah lama), dan muraja’ah harian (pengulangan hafalan yang baru didapatkan). Pembagian ini memastikan bahwa seluruh materi hafalan mendapatkan porsi pengulangan yang merata. Bahkan, dalam pengawasan yang dilakukan oleh Koordinator Pengajar Tahfiz, Ustazah Aminah, pada hari Senin, 17 Maret 2025, setiap santri diwajibkan mencatat progres muraja’ah mereka di buku catatan khusus, yang harus diperiksa dan ditandatangani oleh pengajar setiap minggunya.

Selain metode individual, ada juga muraja’ah yang dilakukan secara berjamaah atau berpasangan (mudarosah). Metode ini sangat membantu dalam Menjaga Hafalan karena adanya kontrol dan koreksi dari rekan. Ketika seorang santri salah, rekannya akan segera mengoreksi, menciptakan mekanisme self-correction yang kuat dalam kelompok. Hal ini juga melatih adab (etika) dalam berinteraksi dan saling mengingatkan.

Pada dasarnya, Menjaga Hafalan adalah sebuah jihad keilmuan melawan sifat lupa yang merupakan kodrat manusia. Disiplin dalam muraja’ah membentuk karakter santri yang tekun, sabar, dan bertanggung jawab. Ilmu yang melekat permanen ini adalah bekal terpenting yang dibawa santri seumur hidup, menjadi penerang hati dan bekal dakwah mereka di tengah masyarakat. Konsistensi dalam muraja’ah adalah kunci utama untuk mencapai keberkahan dan kemudahan dalam ilmu.