Edukasi,  Pendidikan

Membangun Pemahaman Mendalam: Peran Metode Pengajaran Tradisional dalam Studi Kitab Kuning

Studi kitab kuning adalah inti dari pendidikan di pondok pesantren, dan untuk membangun pemahaman mendalam terhadapnya, pesantren mengandalkan metode pengajaran tradisional yang telah terbukti keampuhannya lintas generasi. Metode-metode ini dirancang tidak hanya untuk transfer informasi, tetapi juga untuk menanamkan pemahaman komprehensif, kemampuan analisis, dan penghayatan ilmu agama. Membangun pemahaman mendalam ini adalah ciri khas pesantren dalam mencetak ulama dan cendekiawan Islam. Sebuah laporan dari Kementerian Agama RI pada 15 Juli 2025 menunjukkan bahwa santri yang belajar dengan metode ini memiliki tingkat penalaran agama yang lebih tinggi.

Salah satu metode pengajaran tradisional yang paling fundamental adalah bandongan atau wetonan. Dalam sesi ini, kyai atau ustaz senior akan membacakan dan menjelaskan isi kitab kuning di hadapan puluhan bahkan ratusan santri. Santri menyimak dengan cermat dan mencatat makna (ngesuk/ngelogat) pada kitab mereka sendiri. Keunggulan bandongan terletak pada kekuatan penjelasan langsung dari kyai, yang mampu memberikan konteks, menafsirkan teks-teks sulit, dan menghubungkan berbagai disiplin ilmu. Ini melatih santri untuk fokus, disiplin dalam menyimak, dan mengorganisir informasi.

Sebaliknya, metode pengajaran tradisional sorogan bersifat lebih personal. Santri secara bergantian menghadap kyai atau ustaz secara individu atau kelompok kecil, membacakan bagian kitab yang telah mereka pelajari, dan menjawab pertanyaan. Kyai akan mengoreksi bacaan, hafalan, dan pemahaman santri satu per satu. Metode sorogan ini sangat efektif untuk membangun pemahaman mendalam karena memungkinkan kyai untuk mengidentifikasi kesulitan spesifik setiap santri dan memberikan bimbingan yang sangat personal dan terarah. Ini juga melatih santri untuk percaya diri dan bertanggung jawab atas progres belajarnya. Misalnya, di Pondok Pesantren Al-Falah, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, setiap santri diwajibkan menjalani sesi sorogan harian.

Selain itu, metode pengajaran tradisional seperti halaqah atau diskusi kelompok kecil juga berperan penting. Santri diajak untuk mendiskusikan materi pelajaran, bertukar pikiran, dan menganalisis berbagai sudut pandang. Ini mengembangkan kemampuan berpikir kritis, berargumentasi, dan berkolaborasi dalam menuntut ilmu. Dengan kombinasi metode-metode ini, pesantren berhasil membangun pemahaman mendalam tentang kitab kuning, tidak hanya sebagai teks, tetapi sebagai panduan hidup yang utuh.