Berita

Kamus Istilah Lama Pesantren Darul Amilin yang Kini Mulai Terlupakan

Bahasa adalah penjaga peradaban, dan di dalam dinding-dinding lembaga pendidikan Islam tradisional, bahasa sering kali menyimpan memori kolektif yang tak ternilai harganya. Membicarakan Darul Amilin bukan hanya soal deretan prestasi akademiknya, melainkan juga tentang warisan linguistik yang pernah menjadi napas harian para santri di masa lalu. Namun, seiring dengan laju modernisasi dan standarisasi bahasa pendidikan, terdapat sebuah fenomena di mana beberapa Kamus Istilah Lama yang dulunya sangat akrab di telinga, kini mulai jarang terdengar dan perlahan terkubur oleh zaman.

Mencatat kembali kata-kata unik ini ibarat menyusun kembali kepingan sejarah yang terserak. Di dalam lingkungan Pesantren, istilah-istilah tertentu bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cermin dari tata krama, sistem pembagian tugas, hingga metafora spiritual. Misalnya, penyebutan untuk sistem piket kebersihan atau istilah khusus bagi santri yang bertugas menjaga keamanan asrama di malam hari. Kata-kata ini memiliki muatan emosional yang kuat, yang jika diucapkan, akan langsung membangkitkan nostalgia mendalam bagi para alumni angkatan tua yang pernah menghabiskan masa mudanya di sana.

Sayangnya, dalam dua dekade terakhir, banyak dari diksi khas tersebut yang mulai Terlupakan. Generasi santri baru kini lebih akrab dengan terminologi modern yang sering kali diadopsi dari bahasa sekolah formal atau bahasa digital. Penggunaan istilah seperti “koordinator”, “administrasi”, atau “monitoring” telah menggantikan istilah-istilah lokal yang sebenarnya memiliki makna filosofis lebih dalam. Di Darul Amilin, upaya untuk mendokumentasikan istilah-istilah ini menjadi sangat krusial agar mata rantai budaya antara generasi pendahulu dan generasi penerus tidak terputus sepenuhnya.

Salah satu contoh istilah yang kian langka adalah penyebutan untuk tingkatan pemahaman kitab tertentu yang biasanya menggunakan metafora benda alam atau perlengkapan harian. Penggunaan metafora ini sebenarnya bertujuan untuk menanamkan sifat rendah hati, bahwa setinggi apa pun ilmu seseorang, ia harus tetap mengakar pada realitas bumi. Penghilangan istilah-istilah ini secara tidak langsung juga menghilangkan cara pandang khas pesantren yang melihat ilmu sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari yang sederhana namun bermartabat.